Profil Sushila Karki, Perdana Menteri Perempuan Pertama Nepal Pilihan Gen Z

Profil Sushila Karki, Perdana Menteri Perempuan Pertama Nepal Pilihan Gen Z
PM Nepal Sushila Karki (Foto: Redaksipolitik.com - Web/@ddnews)

REDAKSIPOLITIK.COM – Gejolak politik berkepanjangan di Nepal menghadirkan sosok Sushila Karki sebagai Perdana Menteri (PM) baru sementara pilihan Gen Z.

Melansir AFP, posisi yang diemban Sushila merupakan bagian dari proses transisi menuju Pemilu yang baru akan dijalankan pada tahun 2026 mendatang.

Ia dipilih setelah PM sebelumnya pemimpin Partai Komunis, KP Sharma Oli, mengundurkan diri usai rumahnya dibakar massa dan hingga kini tak diketahui keberadaannya.

“Saya, Sushila Karki… bersumpah atas nama negara dan rakyat untuk memenuhi tugas saya sebagai perdana menteri,” ujar Karki dilantik oleh Presiden Ram Chandra Paudel.

Profil Sushila Karki

Sushila Karki, berusia 73 tahun, merupakan Mantan Ketua Mahkamah Agung (MA) Nepal. Ia menjadi perempuan pertama di kursi tertinggi pemerintahan negeri Himalaya itu.

Pengangkatannya terkait sosoknya yang dikenal independen. Ini terjadi dua hari setelah negosiasi intensif dilakukan Panglima Panglima Angkatan Darat Nepal Jenderal Ashok Raj Sigdel dan Paudel serta perwakilan dari “Gen Z”, gerakan pemuda yang memimpin demonstrasi.

Karki memang dianggap secara luas memiliki citra yang bersih. Namun, menurut BBC Internasional, ia tidak lepas dari kontroversi.

Ia menghadapi insiden pemakzulan selama hampir 11 bulan masa jabatannya sebagai ketua MA. Kini Karki dan kabinetnya akan menghadapi berbagai tantangan, termasuk memulihkan hukum dan ketertiban, membangun kembali parlemen dan gedung-gedung penting lainnya yang diserang, selain meyakinkan para pengunjuk rasa Generasi Z yang menginginkan perubahan.

Pesan Tak Terduga

Saat dilantik Karki menegaskan dirinya hadir bukan untuk mencicipi kekuasaan. Ia hanya akan berada di posisi itu enam bulan.

“Tim saya dan saya di sini bukan untuk mencicipi kekuasaan,” ujarnya Karki memberi pesan tak terduga dikutip media India, NTDV.

Kami tidak akan tinggal lebih dari enam bulan. Kami akan menyerahkan tanggung jawab kepada parlemen baru. Kami tidak akan berhasil tanpa dukungan Anda,” tambahnya.

Saat pertama menjabat, Karki juga mengumumkan kompensasi sebesar 1 juta rupee Nepal kepada keluarga masing-masing korban. Pemerintah sementara, katanya, akan menanggung biaya perawatan bagi mereka yang terluka dan juga membantu mereka secara finansial.

Menurut The Himalayan Times, jumlah korban tewas dalam protes baru-baru ini telah meningkat menjadi 72 orang, termasuk 59 demonstran, 10 narapidana, dan tiga petugas polisi. Lebih dari 500 orang luka-luka.

“Nepal sedang mengalami krisis ekonomi dan prioritas pemerintahan sementara adalah rekonstruksi dan stabilitas ekonomi,” ujar Karki.

Proses Pemilihan yang Unik

Proses terpilihnya PM Nepal yang baru juga tidak kalah menarik. Setelah PM Nepal Sharma Oli mengundurkan diri. Anak muda dan aktivis Nepal kemudian berdiskusi mengenai langkah selanjutnya untuk negara mereka menggunakan aplikasi daring bernama Discord.

Salah satu hal yang mereka rundingkan adalah pemilihan pemimpin baru untuk Nepal.

Sebagai informasi, Discord adalah platform komunikasi yang membuat pengguna bisa mengirim pesan teks, suara, video, dan berbagi layar. Awalnya, aplikasi ini hanya populer di kalangan gamer.

Namun, kini Discord telah berkembang menjadi ruang bagi komunitas untuk saling terhubung, berkoordinasi, hingga belajar bersama.

Dilansir dari The Independent, Nepal baru akan menyelenggarakan pemilihan umum pada 5 Maret 2026 untuk menentukan perdana menteri tetap berikutnya.

Menurut laporan NDTV, sebuah server di Discord dengan lebih dari 145 ribu anggota menyelenggarakan debat tentang siapa yang berpotensi menjadi pemimpin Nepal sementara. Selama seminggu, sejumlah jajak pendapat diadakan oleh perwakilan gerakan protes di Discord untuk mencalonkan calon pemimpin.

Nama Karki kemudian muncul sebagai kandidat pemimpin Nepal karena dinilai memiliki integritas yang luar biasa. Karki juga dikenal karena pendiriannya yang teguh dalam melawan korupsi.*