Michelle Bachelet, Perempuan Pemberani dari Chile

Michelle Bachelet, Perempuan Pemberani dari Chile
Mantan Presiden Chile Michelle Bachelet (Foto: redaksipolitik.com - Web/@dw)

REDAKSIPOLITIK.COM – Michelle Bachelet Jeria telah menjadi salah satu tokoh perempuan paling berpengaruh di Amerika Latin dan dunia terutama terkait komitmennya terhadap keadilan sosial.

Lahir pada 29 September 1951 di Santiago, Chile, ia menjadi presiden perempuan pertama Chile (2006–2010 dan 2014–2018), serta menjabat sebagai Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia PBB (2018–2022).

Perjalanan hidupnya, yang ditandai oleh tragedi di bawah rezim diktator Augusto Pinochet, telah membentuknya menjadi pemimpin progresif yang fokus pada kesetaraan gender, hak asasi manusia, dan reformasi sosial.

Pada September 2025, Presiden Chile Gabriel Boric mencalonkan Bachelet sebagai Sekretaris Jenderal PBB berikutnya, menggantikan António Guterres pada 2026, menandai potensi babak baru dalam kariernya yang gemilang.

Latar Belakang Keluarga Michelle Bachelet

Michelle Bachelet tumbuh dalam keluarga militer yang progresif di pinggiran kelas menengah Santiago.

Ia adalah anak kedua dari pasangan Alberto Bachelet Martínez, seorang Brigadir Jenderal Angkatan Udara Chile yang setia pada pemerintahan Salvador Allende, dan Ángela Jeria Gómez, seorang arkeolog yang tangguh.

Kakek buyut dari pihak ayahnya, Louis-Joseph Bachelet Lapierre, adalah pedagang anggur Prancis yang berimigrasi ke Chile pada 1860, sementara kakek buyut dari pihak ibunya, Máximo Jeria Chacón, adalah insinyur agronomi pertama di Chile dengan darah Spanyol dan Yunani.

Keluarga ini sering berpindah karena tugas militer ayahnya, membawa Michelle ke berbagai kota seperti Quintero, Antofagasta, dan San Bernardo.

Pada 1962–1964, keluarga tinggal di Bethesda, Maryland, AS, di mana Michelle belajar di Western Junior High School dan menguasai bahasa Inggris. Namun, tragedi menimpa pada 1973: kudeta militer Augusto Pinochet menggulingkan Allende.

Ayah Michelle, yang menolak kudeta, ditangkap, disiksa, dan meninggal akibat serangan jantung di penjara pada 1974—ia berusia 50 tahun.

Michelle, yang saat itu berusia 22 tahun dan mahasiswi kedokteran, serta ibunya ditangkap pada 1975 dan disiksa di penjara rahasia Villa Grimaldi.

Mereka selamat berkat intervensi diplomatik, tapi harus mengungsi ke Jerman Timur pada 1975–1979, di mana Michelle bekerja sebagai perawat dan belajar bahasa Jerman.

Pengalaman ini meninggalkan luka mendalam, tapi juga menumbuhkan semangat perlawanan. Saudara laki-lakinya, Alberto, juga aktif dalam gerakan oposisi.

Kondisi Keluarga

Kehidupan pribadinya mencerminkan ketangguhannya. Michelle menikah dengan sesama pengungsi Chile, Jorge Dávalos, dan memiliki putra, Sebastián (lahir 1978), sebelum bercerai pada 1984.

Ia kemudian memiliki dua putri, Valentina (1984) dan Sofía (1990), dari hubungan lain.

Kini berusia 74 tahun, ia mengidentifikasi diri sebagai agnostik dan tetap dekat dengan keluarganya, meskipun skandal seperti kasus Caval (melibatkan putranya pada 2016) pernah mengguncang citranya.

Rekam Jejak Pendidikan

Pendidikan Michelle awalnya dipengaruhi oleh ayahnya, yang mendorongnya memilih kedokteran daripada sosiologi atau ekonomi.

Ia lulus dari Liceo Nº 1 Javiera Carrera pada 1969 dengan peringkat tinggi, aktif di kegiatan siswa seperti paduan suara, voli, teater, dan mendirikan band “Las Clap Clap”.

Pada 1970, ia masuk Fakultas Kedokteran Universitas Chile, ranking 113 dari 160 pendaftar, dan bergabung dengan Pemuda Sosialis.

Kudeta 1973 memutus studinya; ia melanjutkan di Universitas Humboldt, Berlin Timur, pada akhir 1970-an, belajar kedokteran dan bahasa Jerman di Universitas Leipzig.

Kembali ke Chile pada 1979, kredensial Jerman Timurnya tidak diakui, sehingga ia memulai ulang dan lulus sebagai dokter bedah pada 7 Januari 1983.

Ia spesialisasi pediatrik dan kesehatan masyarakat di Rumah Sakit Roberto del Río (1983–1986), meraih nilai unggul meskipun tidak menyelesaikan sertifikasi karena keterbatasan finansial.

Minatnya pada hubungan sipil-militer mendorong studi lebih lanjut: Master Ilmu Militer dari Akademi Perang Angkatan Darat Chile, kursus strategi di Akademi Nasional Studi Politik dan Strategis (ANEPE) pada 1996 (peringkat pertama).

Ia juga mengikuti Kursus Pertahanan Kontinental di Inter-American Defense College, Washington, D.C., pada 1998.

Pendidikan ini, yang mencakup bahasa Prancis dan Portugis, membekalinya dengan perspektif global yang kuat.

Pemikiran Politik Progresifisme yang Berakar pada Keadilan Sosial

Pemikiran Michelle Bachelet adalah campuran sosial-demokrasi, feminisme, dan humanisme sekuler.

Sebagai anggota Partai Sosialis Chile sejak 1970, ia mendukung Koalisi Concertación (1988–2013) dan Nueva Mayoría (2013–2018), menekankan reformasi sosial untuk mengatasi warisan Pinochet: ketidaksetaraan, pelanggaran HAM, dan diskriminasi gender.

Ia melihat politik sebagai alat untuk “melindungi yang rentan”, dengan fokus pada pendidikan gratis, reformasi pajak progresif, hak LGBT, dan lingkungan.

Pengalaman penyiksaan membuatnya anti-otoriter, mendukung rekonsiliasi militer-sipil dan hak korban diktator.

Secara internasional, ia pro-multilateralisme, mendukung PBB dan hak asasi manusia universal, meskipun dikritik atas kunjungan Xinjiang 2022 yang dianggap lunak terhadap China.

Pemikirannya berevolusi dari aktivis pemuda menjadi pemimpin global yang pragmatis, sering dikutip dalam pidato-pidatonya tentang “demokrasi inklusif” dan “kesetaraan sebagai hak dasar”.

Kiprah di Dunia Politik

Karier politik Michelle dimulai di pengasingan: ia membantu Partai Sosialis bawah tanah dan bergabung dengan komite pusat partai pada 1995.

Kembali ke Chile pada 1979, ia bekerja sebagai dokter di klinik Swedia untuk anak-anak tahanan politik hingga 1990, sambil berkonsultasi untuk PAHO dan WHO.

Pada 1994, ia menjadi penasihat Menteri Kesehatan, lalu penasihat senior Kementerian Pertahanan pada 1998.

Terobosan datang pada 2000: Presiden Ricardo Lagos menunjuknya Menteri Kesehatan, di mana ia meluncurkan Rencana AUGE untuk mengurangi daftar tunggu medis hingga 90%.

Pada 2002, ia menjadi Menteri Pertahanan perempuan pertama di Chile dan Amerika Latin, mempromosikan rekonsiliasi dengan militer, mereformasi pensiun, dan modernisasi angkatan bersenjata—meskipun menghadapi resistensi dari jenderal Pinochet-era.

Popularitasnya melonjak, membuatnya kandidat presiden Partai Sosialis pada 2005.

Jadi Presiden Chile

Pada pemilu 2005, Michelle memenangkan putaran kedua dengan 53,5% suara melawan Sebastián Piñera, dilantik pada 11 Maret 2006 sebagai presiden perempuan pertama Chile.

Ini juga membuatnya menjadi presiden perempuan pertama Amerika Selatan yang terpilih secara independen, bukan melalui warisan keluarga.

Kabinetnya paritas gender (50% perempuan), prestasi langka. Presidensi pertamanya (2006–2010) fokus pada kesejahteraan sosial di tengah krisis global 2008.

Ia mereformasi pensiun (Pensiun Solidaritas Dasar), melindungi pekerja kontrak, mewajibkan kesetaraan upah, meluncurkan “Chile Crece Contigo” untuk layanan anak, menyediakan komputer gratis untuk siswa, dan akses kontrasepsi darurat.

Ia membuka Museum Memori dan Hak Asasi Manusia serta Institut Nasional HAM. Ekonomi tumbuh 3,3% rata-rata, kemiskinan turun dari 13,7% ke 11,5%.

Infrastruktur maju dengan perluasan Metro Santiago, meskipun gagal Transantiago (sistem transportasi) dan respons lambat gempa 2010 menuai kritik. Tingkat popularitasnya mencapai 84% di akhir masa jabatan.

Karena konstitusi melarang masa jabatan berturut-turut, ia pindah ke PBB sebagai Direktur Eksekutif UN Women pertama (2010–2013), memimpin strategi global untuk kesetaraan gender.

Kembali ke Chile, ia terpilih lagi pada 2013 dengan 62% suara melawan Evelyn Matthei, dilantik pada 2014.

Kebijakan yang Ambisius

Masa jabatan keduanya lebih ambisius: reformasi pajak (menaikkan tarif korporasi ke 25–27%), pendidikan gratis untuk 200.000 mahasiswa berpenghasilan rendah, legalisasi aborsi dalam kasus pemerkosaan/incest (2017).

Ia juga mengeluarkan undang-undang serikat sipil untuk pasangan sesama jenis (2015), kuota partisipasi politik perempuan, Kementerian Perempuan dan Kesetaraan Gender, serta perlindungan lingkungan (lima taman nasional Patagonia).

Namun, skandal keluarga (Caval) dan protes mahasiswa 2016 menurunkan popularitasnya ke 15%, meskipun pulih ke 39% di akhir.

Pada 2018, ia menjabat Komisaris Tinggi HAM PBB hingga 2022, mengkritik pelanggaran di Hong Kong, Yaman, Iran, Israel, dan Nagorno-Karabakh.

Kunjungan Xinjiang 2022 memuji pengentasan kemiskinan China tapi dikritik karena kurang tegas soal genosida Uighur. Setelah pensiun, ia bergabung dengan Club of Madrid dan Dialogo Interamericano, mendirikan Fundación Dialoga untuk demokrasi inklusif.

Nominasi Sekjen PBB 2025 oleh Boric menegaskan warisannya sebagai simbol perubahan.*

 

Exit mobile version