REDAKSIPOLITIK.COM – Dinamika Kongres dan Majelis Permusyawaratan Anggota (MPA) Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) yang sedang berlangsung di Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) cukup menarik untuk disimak.
Di tengah riuh kebisingan narasi di media sosial, muncul sebuah fenomena aneh yang kalau dilihat dengan seksama cukup mengganggu nalar kritis banyak orang yaitu hebohnya para alumni dan senior PMKRI di lokasi MPA.
Kader PMKRI dari seluruh Indonesia yang kongres, tetapi alumni dan senior-seniornya turun langsung mendampingi bahkan jauh-jauh hari sebelum MPA dilaksanakan. Bukan hanya hadir secara fisik, tetapi juga support lewat logistik. Ngeri kali.
Sungguh menyentuh hati melihat dedikasi para alumni dan senior PMKRI ini. Begitu besar kepedulian mereka terhadap organisasi, sampai rela mengatur, membiayai akomodasi, transportasi, bahkan “uang rokok” bagi hampir seluruh delegasi kongres.
Tentu saja semua itu dilakukan murni karena cinta kasih yang tulus — bukan karena ingin memastikan calon kesayangan mereka duduk manis sebagai Ketua Pengurus Pusat. Betapa mulianya.
Mereka bukan sekadar datang sebagai pembina, melainkan sebagai sutradara ulung. Delegasi dari berbagai daerah sudah diatur sedemikian rupa, skenario sudah ditulis rapi, bahkan ending-nya sudah dipastikan: “pemenang” yang mereka pilih akan terpilih secara “demokratis”.
Setelah itu, Pengurus Pusat yang baru lahir pun siap menjalankan tugas suci — yaitu menyenangkan hati para senior yang telah “berinvestasi” begitu besar.
Ini namanya kepemimpinan yang visioner, kata mereka. Padahal yang terjadi hanyalah pengalihan kepemilikan organisasi secara halus. PMKRI, yang dulu lahir dari semangat mahasiswa Katolik yang kritis dan mandiri, kini perlahan berubah menjadi perusahaan keluarga.
Saham mayoritas dipegang oleh segelintir senior yang mengklaim paling paham “jiwa organisasi”, sementara kader muda hanya berperan sebagai pemilih setia dan pelaksana setia.
Sungguh ironis. Organisasi yang mengajarkan nilai keadilan, kejujuran, dan integritas, justru dimanfaatkan untuk praktik politik transaksional paling kuno: bayar-memilih. Idealisme mahasiswa dibeli dengan tiket pesawat dan hotel berbintang.
Demokrasi internal dihargai hanya sebesar nilai transfer yang masuk ke rekening delegasi. Dan yang paling lucu, semua ini dilakukan atas nama “pengabdian” dan “keberlanjutan organisasi”.
Padahal, keberlanjutan yang sesungguhnya justru sedang dibunuh pelan-pelan. Kader muda yang melihat sandiwara ini menjadi dua kali lipat: yang pertama apatisme total, yang kedua belajar menjadi pemain yang lebih lihai di masa depan.
Hasilnya? Generasi penerus yang bukan semakin dewasa, melainkan semakin pandai berpolitik murahan.
Kepada para senior yang begitu “peduli” ini: terima kasih atas jasanya yang luar biasa. Terima kasih telah mengajarkan bahwa uang dan jaringan lebih kuat daripada suara hati nurani. Terima kasih telah mengubah kongres PMKRI menjadi ajang lelang jabatan yang paling mahal dan paling tidak transparan.
Sekarang, izinkan kami yang masih muda ini mengatakan dengan sangat sopan: Cukup.
Biarkan PMKRI kembali menjadi milik mahasiswanya. Biarkan kongres menjadi arena perdebatan ide, bukan pasar pengaruh. Biarkan ketua terpilih dipilih karena kapasitas, bukan karena kedekatan dengan “sponsor” senior.
Kalau tidak, silakan terus melanjutkan pertunjukan ini. Tapi jangan lupa memasang spanduk besar di depan kongres:
“PMKRI: Dijual oleh Senior, Dibeli oleh Ambisi.”
Semoga suatu hari nanti organisasi ini bisa bangkit dari sindrom Stockholm-nya terhadap para “pembina” yang begitu murah hati.
Oleh: Andreas Lukas Dominik
