REDAKSIPOLITIK.COM – Politisi PAN Surya Utama alias Uya Kuya yang sempat dinonaktifkan pasca peristiwa demonstrasi Agustus 2025 kini aktif lagi jadi anggota DPR RI.
Keputusan tersebut diputuskan oleh Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR dalam sidang putusan dugaan pelanggaran etik Uya dan empat anggota DPR nonaktif lainnya, Rabu (5/11).
Sidang dipimpin Ketua MKD DPR Nazaruddin Dek Gam didampingi empat pimpinan lain, dan dihadiri langsung lima teradu.
“Menyatakan teradu 3 Surya Utama tidak terbukti melanggar kode etik. Menyatakan teradu tiga Surya Utama diaktifkan sebagai anggota DPR terhitung sejak keputusan ini dibacakan,” ujar Wakil Ketua MKD Adang Darajatun.
Keterangan Saksi Ahli Soal Uya Kuya
Dalam proses pengambilan keputusannya, MKD menghadirkan saksi hingga ahli dalam perkara dugaan pelanggaran etik lima anggota DPR yang dinonaktifkan buntut gelombang demo 25-31 Agustus 2025, Senin (3/11).
Dalam keterangannya, para saksi dan ahli membantah isu kenaikan gaji DPR saat para anggota berjoget di sidang tahunan MPR dan Sidang Bersama DPD-DPR 15 Agustus lalu.
“Seingat pengetahuan saudari apakah dalam agenda sidang 15 Agustus 2025 lalu, ada pembahasan tentang kenaikan gaji dan tunjangan DPR?” Kata Wakil Ketua MKD Adang Daradjatun dalam sidang.
“Lalu pertanyaan apakah ada pembahasan kenaikan gaji, tidak ada sama sekali pada pelaksanaan sidang 15 Agustus,” kata Deputi Persidangan DPR Suprihatini.
“Jadi tidak ada pembahasan itu?” Ujar Adang.
“Tidak ada yang mulia”.
Lima anggota DPR yang dimaksud yakni Ahmad Sahroni dan Nafa Urbach dari Fraksi NasDem, Uya Kuya dan Eko Patrio dari PAN, dan Adies Kadir dari Golkar.
Berbeda dengan Uya Kuya dan Eko yang dinonaktifkan karena aksi joget mereka di sidang, Sahroni, Nafa, dan Adies dinonaktifkan karena pernyataan mereka terkait demo dan isu tunjangan.
Dugaan pelanggaran etik kelimanya masing-masing tercatat lewat perkara Nomor 39/PP/IX/2025, 41/PP/IX/2025, 42/PP/IX/2025, 44/PP/IX/2025, dan 49/PP/IX/2025.
Uya Kuya Tidak Lapor Polisi
Sebelumnya, Uya Kuya secara terbuka menyatakan tidak akan membawa kasus penjarahan rumah mereka ke jalur hukum, meski sejumlah barang berharga sempat digondol massa pada Sabtu (30/8).
Rumah Uya Kuya diketahui menjadi sasaran penjarahan massa saat kejadian. Uya mengaku ikhlas menerima peristiwa itu dan kini memilih fokus pada keluarganya.
“Doakan yang terbaik aja. Posisi lagi urus keluarga, urus semua, dan kami ikhlas kok. Yang penting tolong kucing-kucing kami dikembalikan, itu aja,” ujar Uya, dikutip detikcom pada Rabu (3/9).
Ia menjelaskan sebagian kucing peliharaannya sudah ditemukan, baik oleh dirinya, polisi, maupun diselamatkan di shelter. Namun, masih ada beberapa yang belum kembali.
“Ada yang sudah ketemu, ada yang sudah di saya, ada yang ditemukan terus di shelter, terus ada yang sudah di polisi juga menemukan,” tambahnya.
Uya menegaskan tidak ingin banyak berbicara agar situasi tetap kondusif.
“Saya enggak bakal banyak ngomong dulu, biar kondusif dulu. Karena kalau saya ngomong apa pun salah, nanti takutnya digoreng-goreng, dipotong-potong lagi,” ujarnya.
Ia kembali menekankan dirinya telah menerima kejadian itu dengan lapang dada.
“Ikhlas, ikhlas, ikhlas. Insyaallah ikhlas. Yang penting kucing-kucing saya kembali, itu saja. Yang saya pikirkan kucing-kucing saya,” kata Uya.
Uya juga sempat menyampaikan permintaan maaf di tengah gelombang aksi demonstrasi yang berujung ricuh dalam beberapa hari terakhir.
Aksi protes yang awalnya terkait kebijakan tunjangan anggota DPR melebar menjadi berbagai tuntutan, termasuk reformasi kepolisian, transparansi anggaran, hingga perlindungan buruh.
Namun, sebagian massa tak dikenal memanfaatkan momentum untuk melakukan perusakan dan penjarahan, termasuk di rumah Uya dan beberapa pejabat lainnya.*
